Tampilkan postingan dengan label trauma. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label trauma. Tampilkan semua postingan

Rabu, 08 Juli 2020

Mencari Jawaban Bagi Diri

Lama ga buat postingan di blogku ini. maaf aku ga merawatmu dengan baik myblog.
tapi kali ini aku cuma pengen curhat. saat meraa sendiri, saat merasa ga ada yang bisa ngerti, saat ga ada tempat berkeluh kesah, bahkan pada Tuhan sekalipun. Jangan dulu menghakimiku karena aku berpikir seperti itu. Karena kalian tidak mengalami banyak kejadian yang aku alami. Hingga pada titik ini, aku benar-benar merasa putus asa.

Selama hidup, (rasanya, dan selalu kuusahakan) berjalan dijalur yang benar. sesekali memang "miring", tapi aku bukan orang yg mudah terlena dengan hal asyik tapi berdosa. Selalu ada hal yang mengingatkan atau yang menggerakkan hatiku, bahwa aku tidak seharusnya seperti ini, atau tidak seharusnya aku berada disini.

Duh..tiba-tiba aku ingin berhenti melanjutkan tulisan ini. Aku bingung harus memulai dari mana hingga aku berpikir tak ada artinya aku hidup ini. tapi sambil menunggu kantuk, aku tulis aja yang ada diotakku saat ini.

Kadang aku merasa Tuhan tidak adil. Kadang aku bertanya, Tuhan, apalagi setelah ini??? karena kerap kejadian menyakitkan datang bertubi-tubi. Ketulusan yang aku berikan sering kali berbalas dengan pengkhianatan. Lalu aku memaafkan dan memaklumi. Tapi lagi2 aku jatuh dilubang yang sama.

Kalo dipikir lagi, sejak kecil aku seperti manusia yang tidak pernah dikehendaki keberadaannya. Aku mandiri sejak kecil. Dulu saat aku SD, dan saat orang tuaku sering bertengkar dan ingin bercerai, aku selalu berusaha melindungi adik2ku dengan mengunci mereka di kamar, sementara aku memisahkan perkelahian ibu ayah. 

Broken Home?? mungkin iya. Tapi broken home selalu dianggap negatif orang. Sejak dulu pelarianku adalah menulis, dan main musik. Aku tidak terlibat Narkoba meski lingkunganku mayoritas pemake. Aku juga bukan perempuan yang gampang jatuh cinta, punya pacar banyak, meski lingkunganku 99 persen laki-laki. Aku justru merasa terlindungi berada diantara mereka. Ga mikir yang aneh-aneh. 

Ga munafik, pernah naksir dalam diam pada seseorang. Tapi aslinya, aku memang ga pe-de. minder.
Kalo cowoknya keliatan tampan, asik, humoris, banyak yang suka, aku malah mundur alon-alon. meski tau dia suka aku.

Tapi akhirnya aku menikah dengan orang yang dulu aku bela-bela, tapi pada akhirnya memperlakukanku seperti sampah. Kapan-kapan kalo lagi mood, aku ceritain deh bagian itu. Sekarang aku ingin tulis soal pencarianku akan Tuhan.

Kadang terlalu banyak kejadian menyakitkan, aku berpikir, apa yang salah pada diriku. Bagian mana yang harus kubenahi dalah hidupku. Lalu Aku berusaha mendekatkan diri padaNya. Tapi setelah itu, kejadian lebih besar dan lebih menyakitkan datang lagi. Katanya makin tebal iman seseorang, makin banyak ujiannya. Dulu aku berpikit begitu. Bahkan menasehati temen2 juga seperti itu.

Tapi sekarang, sesuatu terjadi padaku. Kegelisahanku ga bisa dibendung lagi. Lalu aku bertanya pada Tuhan : Tuhan, ini ujian atau hukuman?? apa lagi setelah ini. Sebegitu bencikah Kau padaku? Lalu untuk apa Kau ciptakan aku, Untuk apa aku dilahirkan? Kalo aku ada hanya untuk hidup terhina seperti ini, kenapa kau biarkan aku melakukan ini itu dengan jerih payah. Dengan Total, meski aku sering terjatuh, aku selalu bangkit lagi.

Aku membantu orang lain, aku berbuat sesuatu untuk orang banyak. Aku ga pernah berhitung. Aku bagikan keahlian keterampilanku pada orang banyak, tanpa berhitung dan meminta bayaran, Meski aku ditikam dari belakang, aku terus melakukan itu. 

Aku membantu usaha teman yang terpuruk hingga kembali berdiri, meski akhirnya aku hanya dikhianati dan diperalat. itu terjadi berulang-ulang dan aku tidak pernah berhenti hanya karena aku dikhianati.

Hingga ketika suami yang menikahiku selama 18 tahun, membuangku ke jalan tanpa uang sepeserpun. 18 tahun aku memenuhi kebutuhan sendiri bukan dari suami aku ga komplen meski kesal dan marah. Aku disia-siakan, aku tetap setia padanya meski sudah tidak memiliki rasa. karena anak2!! Banyak hal ekonomi juga yang kubantu untuk keluarga, aku ga pernah berhitung.

Hingga aku dipercaya mengurus beberapa komunitas, lalu aku difitnah mantan suami karena selingkuh dan ga becus ngurus anak. Padahal meski aku sakit bahkan kecelakaan, aku tetap antar jemput anak, sementara dia pulang ke rumah ibunya.

Yang paling menyakitkan, ternyata 18 tahun pernikahanku tidak pernah tercatat di negara. Aku ditipu, dikadalin, dicampakan, dibuang dan terpaksa berpisah dengan anak-anak. Itu terpaksa aku lakukan, karena mantan ga mau rugi soal duit. Kalo anak-anak ikut aku, nanti duitnya aku yang make katanya. Jadi kalo anak-anak ikut aku, dia ga mau kasih nafkah.

Aku putuskan dalam perjanjian, sementara anak-anak ikut dia. Daripada mereka hidup susah ma aku. Meski akhirnya aku kost dekat rumah supaya tetap bisa mengawasi mereka. Dan datang setiap kali mereka butuhkan.

Banyak ketidak adilan yang aku rasakan. Semua pengorbananku rasanya ga ada artinya. Aku seperti manusia sampah. Lagi-lagi aku bertanya pada Tuhan, apa aku masih bisa berharap padaMu? apa doa-doaku dan kedzoliman yang aku alami, akan terus Kau abaikan?? Apa Kau ada Tuhan?? 
Lalu aku mulai menganggap Tuhan seperti mereka-mereka, manusia-manusia yang mempermainkan hidup dan harapanku. Perjuanganku. Seperti manusia-manusia yang aku anggap jahat. Lalu aku ini apa, kalo Tuhan aja JAHAT ke aku??

Kadang aku seperti orang gila. Aku menangis sendiri, bicara sendiri seolah-olah Tuhan ada didepanku. Tapi kata-kataku tak didengar.....Tuhan berpaling dariku...Lama-lama aku bisa jadi gila beneran..

Lalu aku tanya Tuhan lagi. Tuhan, anakku anak-anak yang baik. Yang tidak pernah menuntut ini itu, apa Kau ingin membuat mereka juga terhina kalo aku jadi gila??

Meski begitu, aku tak pernah mengungkapkan kegelisahanku ini pada mereka. Juga keluarga (adik2 dan ayah). Mereka taunya aku baik-baik aja. Ayah ga pernah khawatir ke aku, karena beliau menganggap aku pasti selalu bisa mengatasi setiap persoalan. Kadang dia lupa, aku juga manusia biasa. Butuh ditegur, diingatkan, diperhatikan, dipedulikan.

Aku udah mulai pusing nih..kepala terasa berat. mungkin aku perlu istirahat dan rebahan dulu. next time aku cerita lagi, kalo laptop pinjaman ini ga cepet diambil mantan suami. Karena dia sepertinya mau bikin aku sengsara dengan tidak memiliki apa-apa, dan melakukan yang membuatku senang, 
nulis di HP?? kalo HPnya sehat mungkin bisa, Hp warisan selalu bekas punya anak-anak. Kadang hp mencet2 sendiri. Paling kesel kalo ada urusan penting, HP ga bisa diajak kompromi sehat dulu bentaran. Rasanya pengen banting. Tapi kalo aku banting nanti aku ga punya HP lagi. Beli darimana duitnya. Apalagi kondisi pandemi seperti ini, bikin ruang gerak terasa makin sempit.

udah dulu ah nulisnya. Dua hari lalu aku ke klinik, tensi darahku rendah banget. Kata dokternya gejala typus. Ga boleh kecapean dulu ya, jangan begadang, kurangin ngopi. Mungkin keleyengan ini gara-gara penyakit itu juga ditambah perut lapar dan kurang tidur.

aku rehat dulu. denger musik moga bikin aku ngantuk. Kemarin-kemarin denger syalawatan. Aku berhenti dulu, sambil mencari jawaban pada hatiku, apa aku masih bisa mempercayai adanya Tuhan atau aku hanya percaya di dunia hanya ada 2 hal, baik atau butuk. Tanpa Tuhan....

ga usah sewot deh yang baca. badan lagi sakit, jadi sensi dan kejadian buruk datang terus menerus. perut lapar, usaha apa aja buntu. mungkin besok aku bisa berubah pikiran. 

met rehat myblog. juga kalian yang baca. sehat sll ya

Minggu, 01 April 2012

SEX : WHEN HE DOESN'T WANT IT







Men may think of sex every six seconds but there are also times when they avoid having it







MEDICATIONS 


Certain medicines may have many side effects on the body; some of them often have a direct impact on the man’s libido levels. The drugs affect the chemical reactions in the brain and cause loss of interest in sex. Medications that ought to deal with depression and diabetes often lead to loss of sexual desire. A way out of the situation is to consult your doctor to know if an alternate medication is possible, that wouldn’t cause as much harm to one’s libido level. 


LACK OF SLEEP 


Lack of sleep not only affects one’s thinking capacity and performance levels in office, but also causes a backlash in one’s sex life. When the daily sleep requirements aren’t met, the body experiences extreme fatigue and a good night’s sleep seems far more tempting as compared to having sex. 


HORMONAL LEVELS 


A man's testosterone level has a direct impact on his libido level. And if your partner has been showing no interest in sex, chances are it’s due to low levels of testosterone hormone. Low testosterone level is not very common among men. However, it can be a potent reason why your man might be losing interest in sex. Age is also an important factor when we speak of low testosterone levels. For example, a middleaged man might be facing low testosterone levels owing to male menopause. 


IDENTITY ISSUES 


Men often feel uncertain about their role in society due to identity issues that come up in their professional and personal life. It can be issues such as dealing with a difficult boss or death of an important family member. Going through a phase of divorce also hampers one’s belief in relationships and thereby affects the man’s desire in bed. 


STRESS 


Stress has become synonymous with today’s lifestyle. Be it the stress levels at work or even the need to multitask at every step. While the sources are many, a common impact of this is loss of desire. It is important for men going through such high stress levels to identify the various sources contributing to it and deal with them one at a time. 


SPATS WITH MATE 


In a relationship, the man and woman may have different notions of pleasure and the degree to which it is okay to experiment. Very often, the man may want to do something that the woman is not quite comfortable with or even vice versa. Alternatively, the partners may have varied notions when it comes to things like frequency and intimacy in their relationship. Such disagreements lead to strained relationships and depression that has a direct impact on the man’s libido levels. While some may purposely abstain from sex to push their point of view, others may genuinely lose interest. 


SEXUAL DIFFICULTIES 


The man may be facing issues like Erectile Dysfunction (ED) or may also be suffering from premature ejaculation, leaving the partner dissatisfied. A few instances of ‘poor performance’ affects their self-esteem and it causes added pressure the next time they get into the act. With such performance expectations, loss of desire is inevitable. 

The reasons may be purely organic or psychological and it is important to tackle it accordingly. For example, indulging in stop and start exercise can benefit those suffering from early ejaculation and avoiding alcohol may help in dealing with erectile dysfunction. 


BODY IMAGE 


With issues like penis size being hyped to a great extent, it is bound to create self-esteem issues among men who feel they aren’t ‘well endowed’ even if that’s not the case. Many a times, the partner’s body (small breasts, being too thin or too fat) may be the issue, courtesy the hoard of hourglass figures that one sees all around on billboards and magazines. And when self-image doesn’t meet up to your own expectations, it could lead to loss of desire. 


IT’S NOT ABOUT SEX 


Many a times, other sexual habits of men can affect their desire for intercourse. Not because they have any ill effects on one’s sex life, but because over-addiction to pornography, leading to sexual activities could reduce one’s preference for regular intercourse. When stimulation modes differ in a way that’s not possible during normal intercourse, it leads to reduced desire for sex with one’s partner.

Rabu, 25 Januari 2012

Menghapus Ketakutan Tanpa Obat




Peneliti AS telah menemukan cara terbebas dari obat untuk memblokir kenangan menakutkan, seperti masalah gangguan stres pasca trauma.

Penelitian pada tikus, menunjukkan bahwa mengaktifkan kembali memori dengan menunjukkan benda-benda yang merangsang memori menakutkan, dapat membuka jendela waktu tertentu di mana memori dapat diedit sebelum disimpan lagi.
 
"Sebelum kenangan tersimpan, ada periode di mana mereka rentan untuk menjadi terganggu" kata Elizabeth Phelps dari New York University, yang hasil studinya dimuat dalam jurnal Nature.
Penelitian sebelumnya telah menunjukkan bahwa obat dapat digunakan untuk memblokir kenangan menakutkan, tetapi hasilnya tidak tahan lama.
 
Penelitian mereka juga menunjukkan, bahwa kenangan lama dapat diubah atau reconsolidated, tetapi hanya selama jendela waktu tertentu. Waktu itu berkisar antara 10 menit sampai 6 jam kemudian. Setelah itu, memori sekali lagi disimpan di otak.
 
Para peneliti menerapkan temuan ini kepada orang-orang dalam setting lab. Pertama, mereka menciptakan memori menakutkan dengan menunjukkan relawan persegi biru, dan kemudian memberikan kejutan ringan. Begitu mereka telah menciptakan memori ketakutan, mereka hanya menunjukkan kotak biru, yang mengingatkan mereka dari memori rasa takut.
 
Tim menunggu 10 menit dan kemudian mulai periode pelatihan di mana para relawan berulang kali terkena kotak biru tanpa kejutan.

 
Kelompok kedua yang terkena kotak biru tanpa periode 10 menit menunggu, terus menunjukkan ketakutan ketika terkena kotak biru.
 
Ketika membawa kembali pada kenangan ketakutan setahun kemudian, kelompok yang mendapat pelatihan tidak menunjukkan respons rasa takut, yang dilacak oleh perubahan pada kulit. Sedangkan relawan lain terus memiliki respon rasa takut. Phelps mengatakan aspek penting dari penelitian ini adalah jendela waktu.
 
Cara memulihkan memori yang menakutkan adalah hanya dengan melawannya, yaitu menciptakan memori baru yang bersaing dengan memori lama,pada waktu yang tepat, kata Phelps. Hanya saja, terapi ini belum dapat diterapkan segera pada yang mengalami masalah kecemasan yang parah, seperti stres pasca trauma.

LEGENDA MUSIK INDONESIA : DHIEMAS A.S.

Innalillahi wainnailahi roojiuun. Telah Berpulang salah satu pencipta lagu Hit Maker di era 90-an pada tgl. 26 July 2020 di Bandung. Tidak b...